Semenjak seluruh dunia terkena imbas dari krisis finansial global, seluruh masalah nampaknya bercampur aduk mulai dari fluktuasi harga minyak yang naik turun bagaikan roller coaster diikuti dengan fluktuasi harga – harga komoditas lainnya. Hal ini menyebabkan inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga bank. Di lembaran lain dari kisah dunia ini sebagai latar belakang ada kasus subprime mortgage yang mengakibatkan bangkrutnya beberapa raksasa finansial dunia. Hempasan ini berlanjut dengan gelombang PHK terutama di Amerika dan Eropa. Akibatnya harga – harga saham runtuh berguguran dan kinerja investasi di pasar finansial pun anjlok. Rasanya yang terkena dampaknya selain korporasi sudah barang tentu juga individu dan keluarga.
Baik pemerintah maupun otoritas moneter negara kita menyakinkan bahwa secara fundamental perekonomian kita dalam kondisi yang cukup baik. Ini barangkali cara mereka mengatakan bahwa “kita akan baik – baik saja”. Saya sendiri juga memilih untuk bersikap optimis seperti kebanyakan orang lainnya. Walaupun demikian “apa yang terjadi urusan kita, itulah urusan kita”. Karena itu sikap optimisme tadi juga harus diimbangi dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang terburuk dari dampak krisis finansial global ini. Beberapa saran berikut ini dapat anda jalankan untuk membantu anda mengelola keuangan saat krisis finansial global.
Kita melakukannya untuk diri kita sendiri
Suze Orman adalah salah seorang perencana keuangan terkenal dari Amerika. Dalam salah satu kesempatan talkshow televisi di The Oprah Winfrey Show, Suze mengemukakan pendapatnya mengenai apa yang sebaiknya dilakukan oleh warga Amerika dalam situasi sekarang. Salah satunya adalah dengan memperbaiki kebiasaan mereka dalam menggunakan uang. Kebanyakan orang Amerika, katanya, memiliki gaya hidup di luar kemampuan finansialnya. Mereka terus saja mengkonsumsi sesuatu dan membeli barang dan terus menerus menumpuknya. Kata Suze sambil bercanda, “Rumah keluarga Amerika sekarang nyaris serupa WallMart, penuh sesak dengan barang”. Menurutnya, orang Amerika tidak perlu menidentifikasi diri mereka dengan barang – barang. Karena nilai diri seseorang dan yang membuat seseorang benar – benar memiliki hidup yang berarti tidak tergantung dari merek barang apa yang dipakai. Kalau mau jujur, kondisi begini tidak hanya terjadi di Amerika, di sinipun kita mengalaminya bukan?
Siapakah yang siap menghadapi krisis finansial global? Mungkin hanya sedikit orang. Siapa pun bebas memilih ingin berada di golongan yang mana, yang kebanyakan atau yang sedikit tadi. Jika seseorang mampu mengalokasikan 10% s/d 30% dari penghasilannya untuk ditabung, kemungkinan besar dia akan mampu menghadapi apapun yang terjadi di masa depan. Sebaliknya jika seseorang menghabiskan penghasilannya untuk memuaskan gaya hidupnya, dia memilih untuk tidak mempersiapkan sesuatu dan berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
”Jangan menunggu sampai sesuatu itu – baik atau buruk terjadi. Apalagi jika sesuatu itu berhubungan dengan keuangan kita. Kitalah yang menyebabkan semua yang terjadi pada kita”, begitu kata Suze. Bagaimana dengan anda?
Dana darurat
Saya setuju dengan Suze, bagaimanapun juga ilmu manusia belum mampu menyingkap rahasai masa depan. Yang terbaik, yang bisa kita lakukan adalah membuat rencana, disiplin dan konsisten menjalankannya. Artinya kita berusaha. Hidup ini juga penuh dengan gejolak, yang bisa menyebabkan terjadinya krisis finansial (bisa juga tidak) di masa depan. Namun kita tidak bisa menunggu sampai krisis finansial terjadi kemudian baru bertindak. Ini termasuk terlambat. Pepatah mengatakan “lebih baik mencegah dari pada mengobati”. Karena itu melakukan persiapan menghadapi berbagai ketidakpastian di masa depan perlu dilakukan.
Mungkin kondisi keuangan anda sudah stabil dengan karir yang baik dan gaji yang tinggi. Barangkali anda sudah memasuki usia pensiun atau mungkin anda masih muda dan baru mulai berkarir. Siapapun anda dan bagaimanapun situasi keuangan anda saat ini, anda harus tetap memiliki sejumlah simpanan uang yang ditujukan untuk dana darurat. Jika suatu saat di masa depan terjadi krisis finansial yang menyebabkan kerugian keuangan pada keluarga anda, dana darurat ini dapat digunakan untuk membiayai pengeluaan pokok sampai kondisi keuangan keluarga normal kembali.
Dalam perencanaan keuangan tingkat kecukupan dana darurat berpedoman pada rasio kas, yaitu perbandingan antara jumlah asset tunai dengan jumlah rata – rata pengeluaran keluarga per bulan. Adapun jumlah pengeluaran yang dimaksud adalah meliputi cicilan hutang, premi asuransi dan biaya hidup saja. Dengan demikian alokasi pos pengeluaran setoran tabungan dan investasi dalam perhitungan rasio kas boleh tidak dimasukkan. Sebab dana darurat memang untuk menutup biaya – biaya yang sifatnya “genting” – wajib dibayar sekarang juga dan tidak bisa ditunda. Sementara setoran tabungan & investasi walaupun lebih utama tetapi sifanya “penting tetapi tidak genting”. Rasio kas yang disarankan adalah 6 s/d 12 kali pengeluaran keluarga per bulan. Namun besaran ini masih bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga anda misalnya menjadi 3 kali pengeluaran keluarga per bulan. Intinya dana darurat ini harus ada namun besarannya bisa anda sesuaikan. Modal ini harus ditempatkan ke dalam suatu produk investasi dalam bentuk kas (tunai) atau setara kas, seperti tabungan atau deposito, agar mudah dicairkan tanpa menyebabkan anda kehilangan nilai pokok investasinya.
Optimis VS Pesimis
Kedewasaan seseorang dapat dilihat dari bagaimana cara dia merespon berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dapatkah dia mengambil hikmah dari berbagai musibah atau tetap rendah hati meskipun telah begitu banyak kesuksesan diraihnya. Kita tidak pernah benar – benar mengetahui kualitas diri kita, sebelum kita diuji dalam berbagai macam persoalan. Saat kondisi sedang baik, kita cenderung merasa bahagia dan membahagiakan orang lain. Saat kondisi sulit, kita cenderung tidak bahagia dan menyusahkan orang lain. Khususnya dalam krisis finansial saat ini, anda benar – benar bisa memilih apakah akan bersikap optimis atau pesimis. Tidak masalah pilihan mana yang akan anda ambil. Yang pasti masing – masing pilihan akan membawa konsekuensinya sendiri. Nah, apa saja pilihan – pilihan tindakan yang tersedia dalam merespon krisis finansial global, mari kita pelajari.
Kelompok pilihan tindakan optimis:
- Membangun sikap tenang, sabar, disiplin dan konsisten dengan rencana investasi semula.
- Melakukan evaluasi kinerja portofolio investasi anda saat ini karena terjadinya perubahan komposisi portofolio investasi akibat fluktuasi pasar finansial.
- Melakukan penyesuaian yang diperlukan berdasarkan hasil evaluasi tadi, terkait keputusan apakah harus menjual atau membeli sekuritas dalam portofolio investasi anda yang nilainya berubah karena fluktuasi harga.
- Menjalin komunikasi yang baik dengan institusi dan para profesional yang mengelola dana anda untuk mendapat informasi akurat mengenai kondisi pasar terkini.
- Mengendalikan biaya hidup, agar pengeluaran yang cenderung meningkat karena kenaikan harga tidak membegkak.
Kelompok tindakan pesimis yang perlu dihindari:
- Histeris, panik dan bereaksi berlebihan yang bisa membuat panic selling mengakibatkan inkonsistensi dalam berinvestasi.
- Coba – coba berspekulasi dari situasi fluktuasi pasar finansial.
- Mengambil tawaran hutang yang menimbulkan kebiasaan konsumtif, sebab kenaikan suku bunga BI bisa berdampak naiknya suku bunga pinjaman yang bisa membuat beban pengeluaran bertambah.
- Menyalahkan, melampiaskan amarah kepada para institusi dan para profesional yang mengelola dana anda dan menuntut mereka untuk bertanggung jawab atas kerugian investasi.
- Enggan dan malas berinvestasi karena takut merugi.
Daftar pilihan tindakan di atas dapat bertambah lengkap mungkin bisa 30, 45 atau bahkan 100 pilihan tindakan baik yang bisa dilakukan maupun yang seyogyanya sesuai dengan aspirasi sendiri. Namun demikian yang lebih utama adalah anda memutuskan untuk berada di kelompok yang mana. Pertimbangkan baik – baik pilihan anda, sebab apa yang anda putuskan hari ini akan menentukan di mana anda berada suatu saat nanti di masa depan.
Masa krisis senantiasa memunculkan orang – orang pilihan. Mereka telah berhasil menyelesaikan proses pematangan dengan cara menghadapi situasi konkret secara objektif dan dewasa. Jika orang – orang pilihan ini berada di sebuah institusi besar seperti BCA, niscaya bisa dipastikan kinerja individu dan organisasi akan meningkat. Oleh karena itu masa krisis bisa juga menjadi arena untuk unjuk kualitas. Akan menjadi jelas siapa yang berkualitas dan siapa yang masih jauh dari kualitas. Meskipun demikian untuk ke duanya tetap diperlukan semangat belajar. Belajar agar semakin cepat dan tepat mengambil keputusan bahkan di dalam situasi yan kritis seperti ini. Di tangan seluruh insan BCA terletak kesempatan untuk mengembangkan kualitas individu dan kemajuan korporasi yang semakin dilirik menjadi salah satu tempat berinvestasi dan partner investasi yang unggul. Institusi yang unggul dibangun dari individu yang unggul. Dengan demikian krisis global ini justru menjadi ajang kita belajar menjadi unggul dengan cara unggul dalam mengelola keuangan pribadi.
By: Mike Rini Sutikno

Tidak ada komentar:
Posting Komentar